“Sydney?”

Tanya laki-laki muda yang sudah berdiri mantap di hadapan gue. Gue cuma nengok, terus ngedip-ngedipin mata gue berkali-kali.

“Aku Edith” lanjutnya sambil ngasih tangannya ke gue.

Gue diem cukup lama, mencerna semua kejadian yang saat ini lagi gue alami secara perlahan. Setelah bengong cukup lama, gue sadar kalau ada tangan yang menggantung di hadapan gue minta diambil.

brak dengkul gue kepentok meja karena gue buru-buru bangun, lumayan kenceng sampe orang di sekitar gue nengok.

“Eh pelan-pelan” katanya lagi.

Aduh… malu-maluin amat gue” bisik gue dalam hati.

“Mas Edith?” Tanya gue waktu gue sudah sadar sepenuhnya.

Terus dia ngangguk, senyum dan ahh terpampang jelas lesung pipinya yang bikin gue makin tidak bisa berkata-kata.

“Mau Ayo mas? Atau mau ngopi dulu?”

Dia geleng, “Langsung aja.”

Gue buru-buru beresin laptop dan beberapa kertas yang berserakan di atas meja. Maklum pejuang skripsi jadi kemana gue punya waktu luang, sebisa mungkin gue nyicil dikit-dikit.

“Kesini mas,” gue ngarahin mas Edith buat jalan ke arah parkiran, terus dia ngangguk sambil geret kopernya yang gede itu.

Sekarang kita udah di dalem mobil, dengan posisi gue di depan kemudi dan mas Edith yang duduk di samping gue.

“Mas, aku ga tau harus anter mas kemana karena mas Orlando ilang tadi. Ini aku harus anter mas kemana ya?”

“Makan dulu mau ga? Saya laper belum makan siang”

Gue ngangguk terus mulai ngelajuin mobil. Gue nyetir sambil mikir mau ngajak makan ke mana. Nengok kanan kiri berharap ada restoran yang sedikit fancy buat menjami tamunya mas Orlando ini.

Mobil gue parkirin di sebuah restoran western yang gak begitu jauh dari gambir. Asal pilih juga sebenernya karena sejujurnya gue juga gak paham sama daerah sini.

Kita makan cukup khidmat karena kayaknya mas Edith beneran kelaperan. Gue yang masih ga percaya sama sosok yang duduk tepat di hadapan gue lebih banyak mandangin dia dari pada makannya.

“Mbak. Billnya ya” panggil mas Edith waktu dia mau bayar, terus pelayannya nyamperin dia.

Mas Edith sempet ketawa-ketawa waktu dibercandain sama si pelayan. Dan gue, masih mengabsen setiap inchi wajah mas Edith yang ahh, sempurna.