“Pagi, Kak” Jeremy menyapa sosok perempuan yang sudah berada di dalam lift sebelum ia masuk barusan, Nicolle tetangga sekaligus seniornya di kampus. Yang di sapa bales senyum maksa “Iya, pagi” jawabnya.

Suasana agak canggung, dingin dan sepi.

“Lo—”

“Kak—”

Secara bersamaan, mereka berusaha untuk memecah sunyi,

“Kakak duluan” jawab Jeremy mendahului.

“Lo maba di Neo kan?”

“Iya, kak. Kakak panitia ppkk ya?”

“Iyap. Naik apa kesana?”

“Gojek paling kak”

“Mau bareng? Gue bawa mobil sih”

“Eh ga usah kak”

“Gapapa. Gue juga baru mau berangkat”

“Beneran gapapa kak?”

“Iya gapapa. Sekalian”

“Hm, boleh deh kak”

Entah apa yang ada dipikiran Nicolle untuk menawarkan adik tingkatnya berangkat bareng. Sebenarnya Nicolle tidak menyangka kalau adik tingkatnya ini akan menerima tawarannya, ternyata ia salah, adik tingkatnya mengiyakan tawarannya.

Perjalanan berjalan sangat canggung, mungkin karena mereka pun baru pertama kali duduk berdua seperti ini.

“Jurusan apa?”

“HI kak. Kalau kakak?”

“Komunikasi”

“Wah, se fisip dong kita”

Nicolle mengangguk, sambil fokus nyetir.

Waktu sampai di parkiran, Nicolle langsung di sambut beberapa mata tajam termasuk dari seniornya, kak Raden. Entah karena ia telat, atau karena ia turun bersamaan dengan junior dengan segala atributnya.

Waktu sebelum turun, si junior sempat izin untuk tinggal sebentar karena mau cek perlengkapan lagi. Nicolle cuma senyum-senyum kecil melihat adik tingkatnya kerepotan sendiri di hadapannya.

“Makasih banyak ya kak”

“Iyaaa. Sana deh baris”

“Iya kak” terus si junior lari ke barisan, dan Nicolle gabung ke perkumpulan panitia.