77
Nicolle
Gue membuang sembarang handphone gue kelantai, yang kemudian diikuti tatapan bingung dari beberapa orang di sekitar gue. Gue langsung menatap Gale yang kebetulan duduk di samping gue, terus dia naikin kedua alisnya, bingung sama arti tatapan gue.
Saat ini gue sedang duduk di basecamp—sebutan anak-anak bem untuk ruang sekretariat. Kita abis rapat besar, ga bahas yang berat-berat cuma semua anggota tadi ada. Beberapa anak udah pulang, tapi gue lebih milih ngadem karena jam empat nanti gue ada rencana mau jalan sama boozed boo, jadi kita nunggu di basecamp sampe jam empat nanti.
Gue natap Gale bingung, Gale yang ditatap makin bingung.
“Kenapa?” Cuma mulutnya aja yang gerak nanya kenapa, dia berusaha setenang mungkin nanya ke guenya.
“Le… Gue pulang ya” napas gue berantakan. Air mata gue udah ga bisa kebendung, gue udah ga tahan.
“Lo kenapa?” Gale ngoba nahan gue tapi gue udah keburu bangun duluan.
Gue bangun dari duduk gue karena gue takut banget nangis di depan anak-anak, menarik tas yang gue pangku dan buru-buru pake flat shoes yang gue taro di rak sepatu.
Gue bahkan meninggalkan handphone yang terbanting di basecamp tadi.
Gue lari ke luar gedung, entah ke arah mana yang pasti gue mau pergi menjauh. Air mata gue udah banjir di pipi, dada gue sesak rasanya.
Gue mengakhiri pelarian gue tepat di pintu belakang gedung fakultas gue, berjongkok sambil meraung-raung, menutup muka gue dengan lengan gue. Gue ga kuat, kaki gue telalu lemas buat melangkah lebih jauh lagi.
Sepertinya dewa keburuntungan tidak ada dipihak gue hari ini. Di tengah tangisan gue, rintik hujan turun dan mulai membasahi ujung kepala gue, beberapa detik kemudian berubah menjadi bulir yang lebih besar, dengan intensitas yang lebih tinggi.
“Aaaaa… hujaaaaan” ucap gue di tengah tangis, mencoba mengutuk si hujan.
“Hujaaaaan… hu hu hu… hujaaaaan” tangis gue lebih terdengar seperti tangis anak-anak yang tidak jadi beli permen karena tiba-tiba hujan. Masih dengan posisi yang sama, berjongkok entah di mana namun dengan baju yang sudah kuyup.
“Niccc” suara samar terdengat dari belakang. Entah siapa yang manggil karena gue masih sibuk mengutuk hujan yang turun hari ini.
“Niccc” suaranya makin dekat, diikuti suara langkah kaki bertemu air dan terdengar buru-buru.
Gue dengan posisi jongkok melongo ke atas, karena tiba-tiba hujan tidak turun di atas kepala gue.
“Payung… kok ada payung?” pikir gue.
“Huaaaaaaaaa”
“Nicc, ujan”
Gue menengok ke sumber suara, seseorang sudah berdiri mantap tepat di belakang gue, dengan payung lucunya yang berwarna pink itu.
“Hujaaaaan… hu hu hu hu” tangis gue pecah lagi. Gue kembali ngumpet dibalik kaki gue. Gue masih marah sama hujan.
“Iya Hujan. Lo basah kuyup. Balik ya?”
Gue menggeleng, menolak. Gue masih mau lari, masih mau pergi lebih jauh lagi. Tapi hujan sudah berhasil memutus langkah pergi gue.
Waktu gue menegakkan kepala gue, si pembawa payung sudah ikut berjongkok di hadapan gue. Bajunya mungkin ikut basah, karena seluruh payungnya dia arahkan ke gue.
“Pulang ya? Gue anter”
Gue diam, menatap mata si pembawa payung lama.
“Mas Brian selingkuh kaaaaak— huaaaaa” tangis gue pecah lagi. Gue terus berusaha mengelap setiap air mata yang jatuh pake tangan gue. Meskipun itu gak ngasih efek apa-apa karena tangan gue udah terlanjur basah.
Pundak gue terasa dipegang lembut, kemudian dielus pelan.
Tidak ada jawaban dari pernyataan gue barusan yang keluar dari mulutnya. Dia membiarkan gue menangis di posisi paling tidak enak ini.
Waktu gue udah capek jongkok sambil nangis, gue berdiri dan menabrak payung karena si pembawa payung tidak siap dengan berdiri gue yang tiba-tiba.
“Aduh kepentok kan,” katanya sambil ngelus pucuk kepala gue, “Sakit gak?”
Gue geleng.
“Udah?” Tanyanya lagi.
Gue ngangguk.
“Pegel… hiks…” saut gue.
Gue dituntun untuk balik ke arah parkiran, tangan kanannya merangkul dan tangan kirinya tetap memegang payung.
“Kak… hiks”
“Hm?”
“Kok lo tau gue di sini?”
“Nanti ya ceritanya. Gue anter pulang dulu”
Terus gue ngangguk lagi.
Si pembawa payung membuka pintu mobil dan mempersilakan gue masuk. Baju gue basah, begitupun dia. Sempat kepikiran nanti mobilnyaa ikut basah kalau gue masuk dalam keadaan kuyup gini, tapi ya mau gimana, di luar emang hujan dan dia yang mendorong gue masuk.
“Bentar ya,” katanya waktu kita berdua udah duduk di dalam mobil.
“Nanti hp lo dianter kesini dari sekre” katanya lagi. Gue cuma ngangguk.
Gak lama, jendela pintu pengemudi diketok, si pembawa payung menurunkan kaca dan menampilkan kak Haikal dengan payungnya dari balik jendela.
“Nih”
“Thanks Kal”
“Oke”
Terus kak Haikal langsung lari balik lagi ke dalam sekre.
“Handphone lo” dia ngasih handphonenya ke gue.
“Makasih kak” buru-buru gue matikan total handphone gue.
Dia ngangguk, terus ngelajuin mobilnya keluar kampus.
Dia si pembawa payung, adalah Kak Jeremy.