Jovi tiba di Wongso Tower sekitar pukul 7:30, setengah jam lebih awal dari waktu yang ditentukan pada sms yang ia terima beberapa hari sebelumnya.

“Permisi, mbak” sapa Jovi pada seseorang yang sedang duduk di balik meja resepsionis. Mbak yang dipanggil Jovi kemudian berdiri.

“Ada apa mas?”

“Ini mbak, saya terima sms ini 1 minggu yang lalu” kemudian Jovi menunjukan sms di handphonenya.

“Oh. Sebentar ya mas” pegawai tersebut kemudian duduk kembali dan melakukan sambungan telepon. Jovi mengalihkan pandangannya selama pegawai tersebut menelpon.

Jovi memandangi interior di lobby gedung Wongso Tower ini. Satu hal yang Jovi rasakan adalah, gedungnya bagus banget. Ada sentuhan modern dan klasik secara bersamaan.

“Mas” sapa mbak-mbak pegawai, membuyarkan lamunan Jovi.

“Bisa minta ktpnya?” Jovi buru buru mengeluarkan dompet yang dia selipkan di saku belakang celananya. Kemudian menyerahkan ktpnya.

“Ini kartu aksesnya. Langsung naik ke lantai 8 liftnya ada di sebelah kiri. Nanti di lantai 8 langsung ke meja resepsionis lagi nanti diarahin di atas”

“Oh iya mba, makasih mba” Jovi mengambil kartu aksesnya dan pergi ke lantai 8.

Tidak seperti acara penerimaan pegawai yang ramai kemarin, kali ini terasa sangat sepi bahkan seperti tidak ada orang lain seain dirinya. Sesampainya di lantai 8 pun, ia benar benar sendirian padahal ini sudah mendekati pukul delapan pagi.

“Bapak Edwardnya belum sampai mas. Tunggu dulu di ruang tunggu. Nanti kalau sudah sampai saya panggil ya” ucap resepsionis di lantai 8. Jovi diantar sampai ruang tunggu.

Sebenarnya tidak salah jika pak Edward yang mbaknya sebutkan belum sampai. Toh memang Jovi datang lebih awal setengah jam dari waktu yang ditentukan.

Jovi menunggu kurang lebih selama 45 menit di ruang tunggu. Beberap karyawan lalu lalang di lantai ini, ada yang mau mengambil makanan atau minuman kecil di ruang tunggu. Pegawai resepsionis sebelumnya juga sudah bilang kalau Jovi bisa mengambil makanan dan minuman yang tersedia. Tapi sepertinya Jovi terlalu canggung untuk menikmati makanan dan minuman di sini, toh ia bukan siapa-siapa.

“Mas Jovian” pegawai itu memanggil Jovi. Ia buru-buru menghampiri.

Jovi mengekori pegawai untuk masuk ke ruangan. Ruangan auditorium yang cukup besar namun hanya ada 1 meja dan 2 kursi di sana.

“Edward” sapa bapak-bapak sambil mengulurkan tangannya yang duduk di balik meja.

“Jovian” balas Jovi.

“Silakan duduk mas” bapak yang menyebutkan dirinya Edward duduk terlebih dahulu kemudian Jovi ikut duduk setelahnya.

“Oke mas Jovian saya ucapkan selamat terlebih dahulu ya karena sudah berhasil diterima menjadi pengawal di sini”

“Oh, iya pak. Makasih pak” jawab Jovi canggung.

“Oke saya HR di sini mas Jovian. Hari ini kita ngobrol santai saja ya. Nanti mas Jovian akan ngobrol santai juga dengan bagian GA, bagian Security dan dengan CEO kami langsung”

hah CEO Jovi bergumam di dalam hatinya.

“Ya di sini saya jelaskan terlebih dahulu ya mas. Mas akan jadi pengawal anak dari keluarga Wongsonegoro secara langsung. Mas bersedia?”

“Be-bersedia, Pak”

“Oke. Silakan di baca dulu syarat-syaratnya. Kalau ada yang ingin ditanyakan silakan ditanyakan langsung ke saya” pak Edward menyerahkan 5 lembar kertas ke Jovi dan Jovi baca satu persatu.

“Mas Jovian masih kuliah di Neo kan?”

“Iya pak”

“Tolong dilengkapi biodata mas Jovian sekalian saya minta foto mas Jovian nanti. Biodata ini harus diisi secara lengkap. Untuk alamat silakan diisi alamat kosan, alamat keluarga dan alamat kerabat dekat sebanyak 3 keluarga. Kami harus menyimpan minimal 5 alamat keluarga mas Jovian”

“Oh iya pak”

Suasana hening beberap saat, pak Edward menunggu Jovi menyelesaikan bacaan mengenai syarat dan ketentuan serta biodata yang pak Edward minta.

“Sudah pak”

“Oke kalau sudah silakan ditanda tangani setiap halamannya. Tanda tangan di atas materainya ya”

Jovi menandata gani setiap lembar di atas materai sesuai instruksi.

“Ada yang mau ditanyakan mas Jovian”

“Ada pak”

“Ya Silakan”

“Untuk gajinya, ini ga kebesaran pak? Saya kan cuma pengawal?”

Pak Edward tertawa mendengar pertanyaan Jovi.

“Nggak kok mas. Hampir semua pengawal gajinya segitu. Tapi beda sedikit dengan mas Jovi karena pekerjaan mas Jovi lebih berat dari mereka”

“Beratnya seperti apa pak?”

“Mas Jovian akan jadi pengawal sekaligus supir. Dan mas Jovian satu-satunya pengawal. Tidak seperti yang lain ada tim pengawalnya. Kalau mas Jovian sendirian saja yang artinya 24 jam waktu mas Jovian untuk mengawal”

“Kuliah saya gimana ya pak?”

“Tentu kuliah mas Jovian nomer 1. Tapi saat ini mas Jovian punya tanggung jawab tambahan jadi pinter-pinter mas Jovian sajalah untuk bagi waktunya”

Jovi mengangguk.

“Ada lagi mas Jovian yang mau ditanya?”

“Untuk saat ini cukup pak”

“Oke. Saya panggilkan bagian GA dan bagian Security ya. Nanti setelah ngobrol sama mereka kita ke ruangan pak Jerri untuk ngobrol sama pak Jerri langsung”

“Iya pak”

“Selamat ya mas Jovian sekali lagi”

“Makasih banyak pak”

Tak lama sari pak Edward keluar, masuk beberapa bapak-bapak lainnya sepeti mas Hendra bagian GA dan pak Lucky bagian security. Mereka membucarakan tentang bagaimana Jovi akan bekerja nantinya.

Tidak terasa, waktu sudah memasuki waktu istirahat makan siang. Pak Edward mengajak Jovi untuk makan siang di kantin gedung ini. Kantin yang memang disediakan untuk mereka.

“Gimana Jovian?” Tanya pak Edward setelah mereka duduk satu meja.

“Belum kebayang sih pak”

“Hmm wajar sih. Nanti learning by doing aja ya”

“Iya pak”

Jovi diantar ke ruang tunggu lagi oleh pak Edward setelah makan siang. Pak Edward bilang Jovi akan diajak ke ruang CEO nanti dan minta Jovi menunggu kembali.

Jovi menunggu cukup lama hingga mengantuk. Beberapa kali Jovi melihat jam ditangannya dan belum ada tanda-tanda kemunculan pak Edward.

“Mas Jovian” tepat di pukul 15:03 Jovian dipanggil salah satu pegawai dan diantar ke ruang pak Edward. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke ruang CEO.

Hal pertama yang Jovi pikirkan setelah bertemu dengan CEOnya adalah, masih muda, tampan dan berbeda dengan CEO yang memilih dia waktu seleksi sebelumnya.

Bukan, bukan dia yang kemarin di proses pemilihan.

“Hallo hallo” Jerri mengulurkan tangannya

“Jovian”

“Jerrico. Tapi panggil aja Jerri”

“Mbak belum sampe, pak?” Tanya pak Edward.

“Belum. Kelasnya selesai jam setengah 3 tadi. Lagi dijemput Yuda”

“Oke kita mulai dari mana?” Tanya Jerri lagi.

“Ini mas Jovian, pilihan pak Sean”

“Oya? Ayah yang pilih?”

“Benar pak. Saya mah cuma nurut aja pilihan pak Sean”

ah benar, CEO wongso group kan Sean Wongsonegoro

“Oke jadi saya Jerrico, saya adalah CEO Wongso Group Indonesia. Yang kemarin ikut di seleksi Ayah saya, Sean Wongsonegoro. Ayah saya pegang Wongso Group di New York dan saya di Indonesia”

“Udah dikasih tau dia mau ngawal siapa?” Tanya pak Jerri ke pak Edward.

“Belum pak. Biar bapak aja yang kasih tau”

Selama obrolan antara Jerri dan Edward, Jovi lebih banyak diam atau menjawab dengan anggukan saja. Dia tidak tau bahwa skala pekerjaannya sebesar ini sampai dia harus mengobrol dengan CEOnya secara langsung.

“Mas Jovian udah baca semuanya kan?”

“Udah pak”

“Oke jadi saya tekanin lagi kalau saat ini mas jadi pengawal adik saya. Dan yang harus mas tau adalah adik saya, tidak mau diketahui oleh public kalau dia adalah anak kedua dari Wongso Group”

hah, ternyta ada anak orang kaya yang ngumpetin identitasnya

“Saya juga ga tau kenapa tapi memang dia ga suka ekspos dari kecil. Jadi yang public tau ya saya anak satu-satunya keluarga Wongsonegoro”

Jovi hanya mengangguk.

“Selama ini adik saya ga mau punya pengawal karena dia takut kelihatan. Jadi pengawal saya yang jagain kami berdua. Tapi saya rasa adik saya sudah harus punya pengawal sendiri karena pengawal saya gak bisa jaga 2 orang”

Tok tok tok suara ketukan menghentikan obrolan mereka. “Mbak Kinan udah sampe, Mas” suara seorang laki-laki muda setelah membuka pintu ruangan Jerri, diikuti masuknya seorang perempuan muda dengan pakaian khas mahasiswi di belakangnya.

Pak Edward berdiri, otomatis Jovi ikut berdiri.

Terlihat dari ekspresi kaget Kinan saat melihat Jovi. Ia kemudian menunjuk Jovi dengan jarinya.

“Loh kak Jovi?”

“Udah kenal, nan?” Tanya Jerri.

“Nggggak kenal banget sih. Tapi beberapa kali jadi driver di butik”

“Hm bagus lah kalau udah pernah ketemu”

Jovi yang masih menebak-nebak situasi saat ini masih mencoba tersenyum kaku.

“Oke jadi ini Kinan. Adik saya. Kinan ini Jovian, pengawal kamu”

“Jovian” Jovi mengulurkan tangannya.

“Kinan” Balas Kinan.

“Mas mobil udah siap” sapa Yuda dari balik pintu. Jerri bergegas bangun.

“Kakak tinggal ya. Kakak mau ketemu client di luar. Kamu lanjut aja” ucap Jerri dan ia buru-buru keluar ruangan. Pak Edward juga ikut membuntuti Jerri kelur ruangan.

Mereka tinggal berdua, di ruangan kak Jerri.

“Hmmm. Lo udah paham kan kak?”

“I-iya”

“Lo gue aja gapapa kan kak?”

“Iya iya. Gapapa kok”

“Lo manggilnya Kinan aja kak. Ga usah mbak atau apalah yang lain”

“I-iya”

“Lo kesini naik apa kak?”

“Motor”

“Oya?” Wajah Kinan berseri.

“Kenapa?”

“Wait gue chat kak Jerri dulu izin pulang”

“Jangan bilang baik motor?”

“Helm lo 2 kan kak?”

“I-iya”

“Yesss”