Gue membopong laki-laki setengah sadar yang masih bisa bangun buat bukain gue pintu ke kamar sebelah, kamar yang di mana ya rumahnya dia.
Gue memencet password rumah dia dengan lihai, masih inget soalnya sempet dia kasih tau sebelumnya.
“Hehe… Arwa hapwal pwasswpod saywa” ngomongnya udah ngaco sambil senyum senyum dari tadi.
Gue menjatuhkan dia untuk tiduran di sofa, terus dia kayak kedinginan meluk melukin badannya.
“Mas Teo, mau minum?” Gue tanya berbisik ke orang yang udah menyamankan diri tiduran di sofa.
“Hmmm” jawabnya cuma bergumam.
Gue yang gak tau titik-titik penyimpanan selain kotak obat di rumah ini akhirnya memutuskan buat ngambil selimut dari rumah, kasian soalnya dia kedinginan.
“Rrrraaa” gue kaget banget dia manggil gue waktu gue lagi nyelimutin dia, “Awus Rrrra” lanjutnya sambil garuk-garuk lehernya yang super merah itu.
Gue ke dapur dan nuangin air anget ke gelas. T waktu gue balik lagi ke sofa, dia udah tidur pules banget. Gelas yang gue ambil cuma gue letakin di meja depan sofa.
Gue duduk di lantai biar muka gue selevel sama Mas Teo. Orangnya udab pules sambil ngelindur pelan, gak tau apa yang dia omongin ga jelas.
“Napa sih lu mas?” gue ngomong sendiri. Soalnya yang ditanya udah tidur.
“Ara pulang ya mas” gue pamitan sambil bangun dari duduk gue, bruk tangan gue ditarik, gue jatoh ke pelukan mas Teo.
“Hehe. Gapapa. Saya emang udah lama mau mundur dari kamu kok Rin. Saya peluk untuk terakhir kalinya Rin. Boleh ya Rin” bisik mas Teo di tengah pelukan kita.
Rin?
Semua memory gue tentang pertemuan pertama gue dan mas Teo langsung keputer gitu aja dan gue dengan bodohnya ga peka sama semua itu. Mas Teo yang batuk-batuk waktu gue dapet telfon dari Irin, mas Teo yang malu-malu kalau duduk samping Irin, mas Teo yang mukanya merah kalau gue suruh tanya ke Irin, mas Teo yang tiba-tiba minum Latte padahal sebelumnya dia selalu bawa americano di tangannya, dan mas Teo lainnya yang ternyata semua berhubungan dengan Irin.
Gue melepaskan pelukan gue buru-buru dan memutuskan buat pulang. Meninggalkan mas Teo yang patah hati karena ngeliat Irin masuk ke rumah gue dengan pacarnya. Mas Teo yang tiba-tiba masang muka juteknya di depan gue. Mas Teo yang cintanya bertepuk sebelah tangan.