93.

Sydney

Gue sudah berada di kursi penumpang, duduk di sebelah mas Edith yang lagi nyetir di samping gue.

Kebetulan mas Edith mau ngomong sesuatu, rasanya ini waktu yang tepat juga buat gue nanya tentang kenapa mas Orlando belum tau. Tapi bentar, kalau gue tanya gue tuh ke geeran ga sih?

“Kamu takut ya sama saya?” Tanpa aba-aba, pertanyaan itu lolos dari mulut mas Edith tanpa permisi. Gue yang kaget cuma nengok ke dia sambil masang muka bingung.

“Saya cuhat ke temen saya, terus kata temen saya kalau saya agresif bisa bikin kamu takut, Sydney.” Lanjutnya.

Oke. Jadi mas Edith curhat tentang gue… ralat tentang kita ke temennya.

Dia nengok karena gue ga ngasih jawaban apa-apa. Alisnya dia naikin kayak ngasih isyarat minta jawaban gue.

“Takut nggak, toh mas Edith ga punya niat jahat kan?”

“Ngga lah.” Jawaba dia buru-buru.

“Cuma lebih ke… apa ya…? Tiba-tiba?”

Dia ngangguk.

Perjalanan kali ini cuma muter-muter ga jelas di Jakarta. Sebenernya sekalian mas Edith mau isi bensin karena besok mobil dia yang pake.

“Munkin buat kamu ini tiba-tiba,” mas Edith ngelanjutin obrolan kita, “Tapi buat saya, saya udah nunggu dua tahun buat semua ini.”

Ada jeda cukup lama sebelum gue berencana untuk menyanggah pernyataan mas Edith barusan, “Kenapa dua tahun ini ga coba approach aku lewat mas Orlando?”

Dia diem.

kan nggak jelas

“Karena awalnya, saya ga nyangka bisa pindah ke Jakarta. Mangkanya saya gak mau dekati kamu.”

“Aku juga mau tanya sesuatu,” gue menjeda cukup lama, “Mas kenapa belum cerita ke mas Orlando?”

“Saya takut, ditolak Orlando.”

pfft— gue ketawa, ketawa garing.

“Serius. Orlando tuh sayang banget sama kamu Sydney. Sedangkan saya termasuk orang baru di hidup kamu meskipun saya udah kenal lama sama Orlando. Saya takut, permintaan saya ditolak Orlando dan malah Orlando minta saya jauhin kamu.”

“Serius mas mikir gitu?”

“Iya…”

“Ga seru. Ini mah namanya ngaku kalah sebelum perang.”

Dia diem.

“Emang mas Edith niatnya mau minta apa sampe takut ditolak?”

“Mau minta izin buat jadi pacar kamu lah,”

“YA KALI!” Gue sedikit teriak, terus dia langsung nengok kaget.

Kita memutuskan buat pulang, menggantung obrolan yang ga akan ada ujungnya ini. Toh kita baru kenal dua hari, masih panjang perjalanan buat kita kenal satu sama lain. Urusan mas Orlando, akhirnya mas Edith mau cerita katanya. Tapi nanti tunggu waktu yang tepat. Yang dia mau fokusin saat ini adalah gue mengenal dia lebih dalam lagi.