196.

Edith

Tepat di pukul sembilan lewat tiga puluh menit, aku markirin mobil di parkiran apartemen, nenteng tas ransel berisi baju kotor dan kantong kresek berisi sarapan menuju lantai empat belas.

Hal pertama yang aku lakuin waktu sampai di lantai kamarku ini adalah masuk ke kamar buat naro ransel, terus lanjut keluar rumah sambil bawa kresek berisi sarapan tadi.

ting… nong… nggak ada jawaban.

ting… nong… masih nggak ada jawaban.

nit… nit… nit… nit… nit… nit… aku nyoba neken angka dua, delapan, satu, satu, sembilan, delapan dari papan pintu rumah Orlando. Lampu indikator berwarna hijau, yang artinya password yang aku masukin bener.

Aku masuk dengan langkah sepelan mungkin, takut takut ngagetin penghuni rumah dan ngira aku maling. Tapi semakin dalam aku masuk, semakin aku nggak menemukan tanda-tanda kehidupan di sini. Entah semua penghuni masih tidur, atau udah pergi.

Aku buka perlahan pintu bercat putih, dan menampakan suasana kamar yang masih gelap tertutup gorden.

Ada sosok wanita yang masih tertidur pulas, posisinya ngehadap pintu dengan selimut yang hanpir nutupin seluruh tubuhnya.

Pelan, aku coba duduk di sampingnya, sebisa mungkin nggak ngebangunin dia.

Rasanya kangenku langsung runtuh waktu ketemu Sydney. Sydney dalam keadaan tidur begini cantiknya naik berkali-kali lipat. Syd, rasanya saya mau punya pemandangan kaya gini tiap hari.

Belum ada pergerakan dari Sydney selama aku mainin rambutnya. Bubur yang aku beli untuk sarapan kita kayaknya juga udah dingin.

Hmmmh,

“Syd?”

“Mas Edith?” Suaranya serak, khas orang bangun tidur.

“Iya, ini saya,”

“Udah sampe mas?” Matanya disipitin, mastiin kalau aku yang beneran dia ajak ngobrol.

“Iya. Tidur lagi sana.”

Dia geleng.

“Mas…” dia mukul-mukul sisi kasurnya yang kosong, masih dalam keadaan setengah sadar.

Aku yang sebenernya clueless nurutin kemauan Sydney terus ikut tiduran di samping dia. Bedanya dia masih di balik selimut kalau aku nggak.

Deg.

Jantungku deg-degan parah, dengan satu tarikan Sydney sudah berhasil bersandar nyaman di pelukanku. Aku yang gak tau harus ngapain cuma diem pasrah, dan yang bikin aku deg-degan dengan nyamannya ngelanjutin tidurnya.

“Sydney, sarapan dulu ga?”

Dia geleng.

“Saya ga liat Orlando. Orlando mana?”

“Ga pulang.”

Aku berakhir ikut ketiduran sambil meluk Sydney dan kita baru bangun sekitar jam dua siang.