17.

Edith

Ada pemandangan baru yang nggak biasa di kampus hari ini. Lebih tepatnya karena ada lautan manusia yang kumpul sambil merayakan kebebasan dari ikatan yang kurang lebih empat tahun terakhir ini mencekik setiap rongga tubuh.

“Bu aku mau foto sama koncoku dulu.” kataku sambil menggandeng tangan Ibu, takut ilang.

“Iyo. Di mana? Gak jauh kan?”

“Ngga, di situ deket,” aku nunjuk ke arah DPR, tempat aku dan temen-temenku tadi janjian ketemu buat foto bareng, “Ibu sama Bapak tunggu sini aja.” aku mengarahkan Ibu dan Bapak buat duduk di bangku taman, mumpung kosong.

“Nan, Sat, Yan” aku menyapa ketiga temanku yang sudah sampai duluan di DPR. Jaraknya gak begitu jauh dari tempat duduk Ibu sama Bapak tadi.

“Ibu mana, Mase?” Tanya Tian.

Mase, nama panggilan buatan Tian waktu kita ketemu di semester kedua kuliah. Terus akhirnya anak-anak suka iseng ikut manggil Mase. Kata Tian dulu aku medok banget mangkanya dia panggil aku mase, tapi setelah empat tahun tinggal di Jakarta, malah ilang logatku kata Ibu.

“Aku kasih duduk di sebelah sana. Kasian kalau ikut ke sini. Keramean” jawabku sambil nunjuk ke arah Ibu dan Bapak duduk.

Kita ngelanjutin obrolan, lebih banyak obrolan nostalgia karena ini tempat bersejarah buat kita berlima. DPR atau Di bawah Pohon Rindang jadi saksi gimana kita berlima ketemu, jadi deket dan bisa jadi temen deket sampe sekarang.

Kita inget banget pernah jadi panitian ospek berlima dan rapat di sini, pernah ngerjain tugas bareng, nemenin Keenan ketemun sama cewe dari fakultas lain, bahkan sekedar nongkrong ngisi waktu luang diantara kelas pernah kita habisin di sini.

“Nah tuh dia Orlando,” ucapan dari Tian barusan berhasil bikin kita semua nengok ke arah Orlando. Orlando dan gadis dengan dress warna abu-abu kembang jalan ke arah kita sambil asik ngobrol berdua. Hening, obrolan kita serasa keputus dan kita malah fokus merhatiin Orlando.

“Adenya ga sih itu?” Pertanyaan Keenan berhasil membuyarkan lamunan kita semua.

Hm… pantesan diumpetin sama Orlando, cantik cuk,” saut Satria yang dihadiahi gebukan dari Keenan di lengannya, “Lu jangan ngomong macem-macem ke Orlando, Sat.” kata Keenan.

Bentar… kok aku deg-degan. Tau ga sih rasanya tuh kaya ada sinar lampu nyorot dari belakang tubuhnya Orlando dan adenya. Sambil dikasih efek rambut ketiup angin dan burung terbang-terbang di belakangnya. Dan jantungku, rasanya kayak lagi ngadain lomba lari, berisik dan berantakan.

Sorry sorry telat” kata Orlando sambil nyalamin kita bertiga. Aku sampe nggak engeh kalau ternyata Orlando udah berdiri di depan aku.

“Oh iya… ini ade gue, Sydney,” Orlando mengenalkan sambil merangkul adenya, “De, ini temen-temen mas.”

“Edith,” waktu giliranku memperkenalkan diri, “Sydney.” jawabnya sambil senyum… beneran cantik.

Waktu kita di dpr lebih banyak dihabiskan untuk foto bareng, dibantu Sydney yang jadi tukang fotonya.

Selama sesi foto, pandanganku nggak bisa berpaling dari satu sosok yang sedang pegang kamera sambil mengarahkan gaya di depan kita. Mukanya serius, keningnya dikerutin, mungkin dia kepanasan. Dia cuma senyum dikit waktu diledekin Orlando, sisanya nggak.

Selesai fotopun kita nggak bisa lama-lama karena harus balik ke keluarga masing-masing. Orlando pamit duluan, mungkin nggak enak sama Sydney yang udah dari pagi nemenin dia. Dan aku juga pamit karena kasian Ibu sama Bapak nungguin berduaan.


Aku diam cukup lama di dalam taxi, mungkin efek ngantuk karena udah bangun dari pagi buta. Sekarang aku udah di pejalanan pulang ke rumah Budhe ku sama Ibu dan Bapak.

“Dith, tadi Ibu ngobrol karo mba mba, ayu tenan.”

“Iyo?”

“Jeneng mbak‘e sopo, Pak?” Tanya Ibu sambil mukul-mukul paha Bapak yang duduk di sampingnya, “Zidni opo sopo gitu lah susah.”

Awalnya denger nama ‘Zidni’ keluar dari mulut Ibu gak bikin aku bereaksi apa-apa. Toh Ibu cerita juga nggak jelas, cuma cerita kalau kenalan sama cewe cantik namanya ‘Zidni’.

“Anu Dith, ibu tanya kok sendirian terus dia jawab dia nemenin masnya wisuda. Orang tuanya gak bisa dateng”

bentar

“Namanya Zidni bu?”

“Zidni opo Sidni lah ibu gak begitu denger”

“Pake baju abu-abu?” Aku menengokan tubuhku ke bangku belakang, nunggu jawaban dari ibu.

“Iyo kayaknya. Ibu ‘wis lupa”

“Itu kayaknya adenya Orlando bu”

“Oalah Orlando yang tinggi gede itu?”

“Iya. Sydney namanya”

Aku yang sebenarnya udah sedikit lupa akan sosok Sydney, mendadak jadi kepikiran lagi karena Ibu. Jarang banget Ibu muji perempuan cantik. Cantik versi Ibu tuh bukan cuma diliat dari parasnya, tapi gimana dia bersikap ke Ibu dan cara bicaranya jadi penilaian Ibu juga.

Ah Sydney… aku jadi penasaran kan