160

Sydney

Jalanan ibu kota lebih padat karena gue dan mas Edith keluar di jam pulang kerja. Agak salah sih pilih keluar jam segini cuma karena mau keuar sekalian makan malem, jadilah harus keluar jam segini.

“Kan saya bilang jangan dandan cantik-cantik. Nanti kalau banyak yang naksir gimana? Saya yang repot,”

“Gombal.” Sambil gue gebuk lengannya pelan.

Dia ketawa, gak lupa nampakin lesung pipinya yang mau gue colok itu.

“Syd, siapa namanya?” Tanya mas Edith waktu gue lagi fokus nyatetin apa aja yang mas Edith kira-kira perlu buat dibawa ke Bandung,

“Hah?”

“Itu anak ibu yang di apartemen, siapa namanya?”

“Oh. Julian namanya,”

Dia ngangguk.

Gue lanjut ngetik sambil nanya ke mas Edith barang-barang yang udah gue catet ini masih kurang apa kelebihan, terus ada barang-barang yang dia perlu apa nggak.


“Mas biasa pake sikat gigi yang mana?” Tanya gue waktu kita udah berdiri di bagian keperluan kamar mandi.

“Yang ini,” dia nunjuk salah satu sikat gigi berwarna hijau, “Tapi saya mau kembaran dong sama kamu,” kemudian ngambil dua buah sikat gigi dan dimasukan ke troli.

“Ih buat apa? Ga usah mas,” Gue coba ngambil balik sikat gigi dari troli tapi diambil lagi sama mas Edith,

“Gak apa apa, Sydney.” dan meninggalkan gue yang tentu sudah deg-degan ini.

Begitu pula sendal, kaus kaki, dan barang-barang gak penting lainnya yang mas Edith ambil dua dengan alasan biar kembaran sama gue.

Kita lanjut duduk disalah satu restoran jepang yang ada di dalam mal, milih duduk dipinggir conveyor belt biar gampang kalau mau nambah.

“Mas tuh aneh,”

“Aneh kenapa?”

“Buat apa coba beli semuanya dua? Jadi double kan uangnya!”

“Kamu ga mau ya Sydney kembaran sama saya?” Katanya sambil ngasih muka melas.

Gue bisa apa kalau mas Edith udah pasang muka kaya gini?

Handphone gue tiba-tiba getar, bikin gue dan mas Edith nengok bareng karena kebetulan handphone gue taro di atas meja.

“Ngapain nelepon?”

Gue cuma jawab sambil naikin kedua bahu gue, dan tentu gue reject karena gue ngerasa ga ada kepeluar mendesak sama si penelpon dan di depan gue ada mas Edith yang udah pasang muka bete.

Gak lama dari gue reject, telepon dari orang yang sama masuk lagi. Bikin gue dan mas Edith nengok bareng lagi, dan tentu gue reject lagi.

Ditelepon ke empat, handphone gue mas Edith rebut tepat sebelum gue berhasil reject,

“Sebentar ya,” terus dia pergi menjauh, nunggalin gue. Dih feeling gue gak enak.

Mas Edith balik dan kasih handphone ke gue sambil senyum, mukanya gak keliatan marah sama sekali,

“Penting mas sampe nelponin gitu?”

“Mau mastiin katanya besok jam berapa,”

“Oh pas berarti ngobrolnya sama mas.”

Dia cuma ngangguk dan lanjut makan.